Jakarta, 7 September 2026 – Jumlah korban meninggal akibat banjir bandang dan longsor besar yang melanda wilayah Tibet atau Daerah Otonomi Xizang di China bertambah menjadi 43 orang. Hingga pembaruan terakhir dari otoritas setempat, sebanyak 519 orang lainnya masih dinyatakan hilang setelah bencana menerjang kawasan Gyirong di perbatasan China dan Nepal. Angka korban tersebut meningkat dibandingkan laporan sebelumnya yang mencatat 31 orang meninggal dan 531 orang belum ditemukan. Besarnya jumlah warga yang masih hilang membuat operasi pencarian dan penyelamatan terus dilakukan secara intensif di kawasan terdampak. Tim penyelamat menghadapi medan pegunungan yang sulit, timbunan lumpur dan material longsor dalam jumlah besar, serta ancaman cuaca yang dapat menghambat pencarian. Otoritas China menyatakan pendataan korban masih berlangsung sehingga jumlah korban dapat kembali berubah mengikuti perkembangan operasi di lapangan.
Bencana yang menghantam kawasan tersebut terjadi pada 26 Agustus 2026 dan berkaitan dengan runtuhnya gletser di kawasan pegunungan tinggi di Nepal. Peristiwa itu memicu aliran air, lumpur, bebatuan, dan berbagai material dalam volume besar yang bergerak cepat melalui lembah serta aliran sungai. Gelombang material kemudian menerjang wilayah di kedua sisi perbatasan Nepal dan China dengan daya rusak yang sangat besar. Salah satu kawasan yang mengalami kerusakan berat adalah Pelabuhan Gyirong, pintu perbatasan utama yang selama bertahun-tahun menjadi jalur perdagangan dan mobilitas masyarakat antara kedua negara. Bangunan, kendaraan, jalan, serta berbagai fasilitas di kawasan tersebut tersapu atau tertimbun material. Kondisi geografis berupa lembah sempit turut membuat aliran banjir dan material longsor terkonsentrasi pada jalur yang dilaluinya.
Data terbaru menunjukkan 261 warga negara asing dari 23 negara termasuk dalam kelompok orang yang masih dinyatakan hilang di wilayah Tibet. Keberadaan warga asing berkaitan dengan posisi Gyirong sebagai salah satu jalur utama yang menghubungkan China dan Nepal. Kawasan tersebut digunakan oleh pekerja, pelaku usaha, pengemudi, wisatawan, serta masyarakat yang melakukan perjalanan lintas batas. Proses identifikasi dan pencocokan data menjadi salah satu pekerjaan besar karena sebagian dokumen dan fasilitas administrasi ikut terdampak bencana. Pemerintah China berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memperbarui informasi mengenai warga asing yang belum ditemukan. Besarnya jumlah orang hilang juga memperlihatkan skala bencana yang jauh melampaui kerusakan fisik yang terlihat di permukaan.
Lebih dari 2.500 personel telah dikerahkan China untuk mendukung operasi pencarian dan penyelamatan di kawasan terdampak. Operasi tersebut juga melibatkan lebih dari 500 kendaraan serta berbagai peralatan berat untuk membuka timbunan material dan menjangkau lokasi yang sebelumnya sulit diakses. Drone telah diterbangkan lebih dari 1.000 kali untuk membantu pemetaan wilayah, pencarian korban, dan pemantauan kondisi medan dari udara. Pemerintah juga menggunakan teknologi pendeteksi kehidupan dan anjing pelacak untuk mencari kemungkinan korban yang masih terperangkap di bawah puing maupun lumpur. Sekitar 5,43 ton bantuan telah diterjunkan dari udara ketika akses darat menuju sejumlah kawasan belum dapat digunakan secara optimal. Pencarian dilakukan dengan hati-hati karena struktur tanah yang belum stabil masih dapat memunculkan longsor susulan.
Salah satu hambatan terbesar dalam operasi penyelamatan adalah rusaknya akses transportasi menuju Gyirong. Jalan Nasional G216 yang menjadi jalur penting menuju kawasan perbatasan sempat terputus akibat banjir dan longsor sehingga pergerakan personel serta alat berat mengalami kesulitan. Setelah dilakukan perbaikan darurat, akses tersebut kembali dapat digunakan sehingga kendaraan penyelamat dan peralatan berat bisa memasuki daerah bencana dalam jumlah lebih besar. Pemulihan jalur darat menjadi penting karena operasi pencarian membutuhkan alat yang tidak semuanya dapat dikirim menggunakan helikopter. Kendati akses mulai membaik, tim di lapangan masih menghadapi lapisan lumpur tebal, puing bangunan, bebatuan, dan kondisi medan pegunungan yang kompleks. Hujan serta potensi pergerakan tanah juga terus diperhitungkan dalam menentukan area pencarian.
Kerusakan paling mencolok terlihat di kawasan Pelabuhan Gyirong yang sebelumnya menjadi pusat aktivitas lintas batas China-Nepal. Arus lumpur yang menyerupai gelombang besar menerjang fasilitas perbatasan dengan cepat dan hanya memberikan sedikit waktu bagi orang-orang di lokasi untuk menyelamatkan diri. Sejumlah bangunan yang sebelumnya berdiri di kawasan tersebut nyaris tidak lagi terlihat setelah tertutup lumpur dan puing. Kendaraan serta berbagai fasilitas penunjang perdagangan ikut terseret atau terkubur. Kondisi tersebut menyulitkan petugas memperkirakan lokasi korban karena struktur kawasan telah berubah drastis dibandingkan sebelum bencana. Alat berat harus digunakan secara bertahap agar proses penggalian tidak membahayakan kemungkinan korban yang masih berada di bawah material.
Pemerintah China juga memberikan bantuan kepada sekitar 1.720 warga Nepal yang berada di Gyirong setelah bencana memutus aktivitas normal di kawasan perbatasan. Banyak warga Nepal bekerja atau menjalankan usaha di wilayah tersebut sehingga kerusakan pelabuhan perbatasan membuat mereka tidak dapat melakukan perjalanan seperti biasanya. Bantuan darurat diberikan untuk memenuhi kebutuhan dasar selama proses penanganan bencana berlangsung. China dan Nepal juga melakukan pertukaran informasi mengenai cuaca, kondisi hidrologi, dan perkembangan gletser untuk mendukung operasi tanggap darurat. Kerja sama lintas batas menjadi sangat penting karena bencana yang sama memberikan dampak besar di kedua negara. Aliran sungai dan karakter geografis Himalaya membuat kejadian di satu sisi perbatasan dapat dengan cepat memengaruhi wilayah di sisi lainnya.
Skala bencana di Nepal bahkan jauh lebih besar dengan jumlah korban meninggal telah melampaui 1.300 orang. Ribuan orang lainnya masih dinyatakan hilang setelah banjir bandang dan longsor menerjang kawasan utara dan sejumlah wilayah lain di negara tersebut. Jika digabungkan, korban meninggal akibat rangkaian bencana di Nepal dan wilayah Tibet telah mendekati 1.400 orang. Ribuan warga kehilangan tempat tinggal atau terpaksa mengungsi setelah permukiman, jalan, jembatan, dan berbagai fasilitas penting mengalami kerusakan. Operasi pencarian di Nepal juga menghadapi tantangan geografis serupa karena banyak wilayah berada di kawasan pegunungan dan lembah yang sulit dijangkau. Kondisi tersebut membuat proses memastikan jumlah korban secara keseluruhan membutuhkan waktu panjang.
Para ahli menduga runtuhnya gletser di kawasan Himalaya menjadi pemicu awal rangkaian bencana tersebut. Material dari pegunungan kemudian masuk ke sistem sungai dan menghasilkan aliran yang membawa air, lumpur, batu, serta puing dalam kecepatan tinggi menuju kawasan yang lebih rendah. Peristiwa semacam ini menjadi perhatian karena wilayah Himalaya memiliki banyak komunitas, proyek infrastruktur, dan jalur transportasi yang berada di sepanjang lembah sungai. Pemantauan kondisi gletser, curah hujan, serta stabilitas lereng menjadi semakin penting untuk memberikan peringatan lebih cepat apabila muncul tanda-tanda bahaya. Namun, kejadian yang berlangsung sangat cepat tetap menjadi tantangan besar bagi sistem peringatan dan evakuasi. Pemerintah kedua negara kini menghadapi pekerjaan panjang untuk memulihkan wilayah terdampak sekaligus mengevaluasi risiko bencana serupa.
Operasi pencarian terhadap 519 orang yang masih hilang di Tibet akan terus menjadi prioritas selama kondisi lapangan memungkinkan. Tim penyelamat memperluas pencarian dari kawasan Pelabuhan Gyirong menuju jalur yang dilalui aliran banjir dan material longsor dengan menggunakan alat berat, drone, anjing pelacak, serta perangkat pendeteksi. Harapan menemukan korban selamat tetap dipertahankan meskipun waktu yang telah berlalu membuat operasi semakin sulit. Pada saat bersamaan, pemerintah harus memastikan kebutuhan penyintas terpenuhi dan akses transportasi dapat dipulihkan untuk mempercepat distribusi bantuan. Jumlah korban meninggal yang meningkat menjadi 43 orang menunjukkan proses pencarian masih dapat menemukan korban baru di tengah luasnya area terdampak. Penanganan bencana di kawasan perbatasan China-Nepal diperkirakan masih akan berlangsung panjang mengingat ratusan orang di Tibet dan ribuan lainnya di Nepal belum diketahui keberadaannya.





