Palangka Raya, 5 September 2026 – Kepolisian Daerah Kalimantan Tengah menguji penggunaan Hartindo AF31 sebagai salah satu metode untuk mempercepat pemadaman bara kebakaran hutan dan lahan yang masih tersimpan di bawah permukaan gambut. Pengujian dilakukan di kawasan Jalan Dulin Kandang, Kota Palangka Raya, dengan melibatkan personel kepolisian dan dukungan Korps Brigade Mobil Polri. Kapolda Kalimantan Tengah Irjen Pol Iwan Kurniawan mengatakan penanganan kebakaran gambut mempunyai tantangan berbeda dibandingkan kebakaran pada lahan mineral karena bara dapat bertahan di lapisan bawah meskipun api di permukaan sudah terlihat padam. Bara tersembunyi tersebut dapat terus menghasilkan asap dan berpotensi kembali memunculkan api ketika kondisi tanah mengering atau terkena hembusan angin. Karena itu, pemadaman tidak cukup hanya dilakukan pada kobaran yang terlihat di permukaan. Penggunaan Hartindo AF31 diharapkan mampu menjangkau titik panas tersebut sekaligus mempercepat proses pendinginan.
Hartindo AF31 digunakan dalam bentuk serbuk yang dicampurkan dengan air sebelum diaplikasikan pada lahan gambut. Bahan yang digunakan Polda Kalteng merupakan dukungan dari Korbrimob Polri untuk memperkuat operasi penanggulangan karhutla selama musim kemarau. Dalam pelaksanaannya, larutan tersebut tidak hanya disemprotkan pada permukaan tanah, tetapi dapat dimasukkan atau diinjeksikan menuju lapisan gambut yang masih menyimpan panas. Metode ini memungkinkan cairan mencapai titik bara yang sulit dijangkau apabila pemadaman hanya mengandalkan penyemprotan konvensional. Hasil uji lapangan menunjukkan proses pendinginan dapat berlangsung lebih cepat dan bara yang berada di bawah permukaan lebih efektif ditangani. Berkurangnya bara juga diharapkan dapat menekan munculnya asap setelah kobaran api utama berhasil dipadamkan.
Untuk menentukan lokasi bara secara lebih akurat, petugas menggunakan drone yang dilengkapi kamera termal. Perangkat tersebut diterbangkan di atas kawasan terdampak untuk mendeteksi perbedaan temperatur dan mengidentifikasi titik yang masih mempunyai suhu tinggi. Informasi dari pemantauan kemudian digunakan sebagai panduan bagi personel di darat untuk menentukan lokasi penyuntikan larutan pemadam. Pendekatan tersebut membuat petugas tidak perlu membasahi seluruh area secara merata ketika hanya beberapa bagian yang masih menyimpan bara. Penggunaan air pun dapat dilakukan secara lebih terarah, terutama ketika ketersediaan sumber air mulai berkurang pada musim kemarau. Kombinasi pemantauan udara dan pemadaman dari darat menjadi bagian dari upaya meningkatkan efektivitas penanganan kebakaran gambut.
Dalam pengujian tersebut, setiap kantong Hartindo AF31 memiliki berat sekitar 25 kilogram dan dicampurkan dengan kurang lebih 100 liter air. Untuk tampungan berkapasitas sekitar 1.200 liter, petugas menyiapkan sekitar 12 kantong bahan sebelum campuran digunakan di lapangan. Larutan kemudian dialirkan menuju titik yang telah diidentifikasi masih mempunyai bara dengan sistem injeksi ke lapisan gambut. Teknik tersebut ditujukan agar cairan tidak hanya membasahi bagian atas tanah, tetapi mampu menjangkau panas yang tersimpan lebih dalam. Pada lahan gambut, bara dapat merambat secara perlahan di bawah permukaan dan tidak selalu dapat diketahui hanya melalui pengamatan visual. Karena itu, kemampuan menjangkau lapisan bawah menjadi salah satu faktor penting dalam mencegah kebakaran kembali muncul.
Iwan menjelaskan keterbatasan air menjadi pertimbangan penting dalam penerapan metode tersebut. Jika seluruh lahan terus dibasahi tanpa mengetahui secara tepat posisi bara, kebutuhan air menjadi jauh lebih besar dan proses pemadaman dapat berlangsung kurang efisien. Kondisi tersebut semakin menantang ketika kemarau menyebabkan sumber air di sekitar lokasi kebakaran mulai menipis. Dengan bantuan drone termal, personel dapat memusatkan penggunaan larutan hanya pada area yang masih menunjukkan panas. Hartindo AF31 juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan penyekat pada area tertentu untuk membantu menghambat rambatan api. Pendekatan tersebut diharapkan membuat penggunaan sumber daya pemadaman menjadi lebih efektif tanpa mengurangi kemampuan petugas mengendalikan kebakaran.
Personel Brimob yang bekerja di lapangan turut menggunakan sejumlah peralatan pemadaman portabel untuk mendukung proses pembasahan dan pendinginan. Peralatan tersebut membantu petugas menjangkau lokasi yang sulit dilalui kendaraan maupun perangkat pemadam berukuran besar. Karakter lahan gambut yang lunak dan memiliki lapisan organik tebal sering membuat operasi pemadaman membutuhkan kombinasi berbagai metode. Api yang terlihat dapat dipadamkan terlebih dahulu, tetapi pekerjaan belum selesai sebelum dipastikan tidak terdapat bara aktif di bawah tanah. Petugas karena itu harus melakukan pemeriksaan berulang terhadap lokasi yang sebelumnya terbakar. Pendinginan menjadi tahapan penting untuk memastikan kawasan tersebut tidak kembali mengeluarkan asap maupun mengalami kebakaran susulan.
Bahan pemadam yang diterima dari Korbrimob Polri tidak hanya digunakan pada lokasi pengujian di Palangka Raya. Polda Kalteng menyatakan Hartindo AF31 telah didistribusikan ke sejumlah wilayah lain di Kalimantan Tengah untuk mendukung kegiatan pembasahan dan penanganan karhutla. Distribusi dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi lapangan serta kebutuhan personel yang menghadapi kebakaran di kawasan gambut. Apabila penerapannya menunjukkan hasil efektif secara konsisten, metode tersebut dapat menjadi tambahan pilihan bagi tim pemadam ketika menghadapi bara bawah tanah. Namun penggunaannya tetap harus disesuaikan dengan karakteristik lokasi dan kondisi kebakaran yang ditangani. Penguatan sarana pemadaman menjadi penting karena Kalimantan Tengah mempunyai kawasan gambut luas yang rentan terbakar pada periode kering.
Upaya tersebut menjadi bagian dari langkah lebih luas Polda Kalteng menghadapi peningkatan risiko karhutla sepanjang 2026. Hingga 24 Agustus, kepolisian mencatat sekitar 22.203 titik panas telah terdeteksi di berbagai wilayah Kalimantan Tengah sejak awal tahun. Luas lahan yang terbakar pada periode tersebut mencapai sekitar 4.920 hektare, sehingga pengendalian kebakaran menjadi salah satu fokus selama musim kemarau. Polda Kalteng sebelumnya juga menyiagakan sekitar 500 personel melalui Operasi Aman Nusa II untuk mendukung pencegahan dan penanganan karhutla. Kekuatan tersebut didukung berbagai sarana pemadaman serta koordinasi dengan pemerintah daerah, TNI, BPBD, instansi lingkungan dan kehutanan, Manggala Agni, perusahaan, serta kelompok masyarakat. Penanganan terpadu diperlukan karena penyebaran titik api dapat berlangsung di wilayah yang luas dengan kondisi geografis berbeda-beda.
Selain melakukan pemadaman, kepolisian terus mendorong pencegahan agar jumlah kebakaran baru dapat ditekan. Pembukaan lahan dengan cara membakar menjadi salah satu aktivitas yang mendapat perhatian karena dapat berkembang menjadi kebakaran lebih luas ketika dilakukan pada kondisi kering dan berangin. Sosialisasi kepada masyarakat berjalan bersamaan dengan patroli, pemantauan titik panas, penanganan api, dan penegakan hukum apabila ditemukan pelanggaran. Pencegahan dinilai lebih efektif dibandingkan harus memadamkan kebakaran setelah api masuk ke lapisan gambut yang dalam. Ketika gambut sudah terbakar, proses pemadaman dapat membutuhkan waktu panjang karena panas tersimpan di bawah tanah. Kondisi itulah yang membuat inovasi untuk mendeteksi dan mematikan bara tersembunyi semakin dibutuhkan selama musim kemarau.
Pengujian Hartindo AF31 bersama teknologi drone termal memberikan alternatif tambahan dalam penanganan karakter kebakaran gambut yang kompleks di Kalimantan Tengah. Polda Kalteng berharap penggunaan metode tersebut dapat mempercepat pemadaman, menghemat air, serta mengurangi kemungkinan munculnya kembali api dari bara yang belum sepenuhnya mati. Distribusi bahan ke beberapa wilayah juga memungkinkan efektivitasnya diuji dalam kondisi lapangan yang berbeda. Personel tetap akan mengombinasikannya dengan pembasahan konvensional, peralatan pemadam portabel, patroli, serta pemantauan titik panas sesuai kebutuhan. Fokus utama tidak hanya memadamkan kobaran yang terlihat, tetapi memastikan sumber panas di bawah permukaan benar-benar terkendali. Dengan langkah tersebut, potensi asap dan kebakaran berulang di kawasan gambut diharapkan dapat ditekan selama periode rawan karhutla.





