Jakarta, 24 September 2026 – Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mengingatkan bahwa sampah sisa makanan yang tidak dikelola dengan baik dapat menjadi sumber emisi gas rumah kaca. Sampah organik yang menumpuk dan terurai dalam kondisi minim oksigen dapat menghasilkan gas metana yang berkontribusi terhadap pemanasan global. Karena itu, pengurangan sampah makanan perlu dimulai sejak dari rumah tangga, restoran, hotel, pasar, hingga berbagai kegiatan usaha. Pengelolaan yang tepat juga dapat mengurangi jumlah sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir. Masyarakat didorong melihat sisa makanan sebagai material yang masih dapat dimanfaatkan.
Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah mencegah timbulnya sampah makanan sejak awal. Masyarakat dapat merencanakan kebutuhan pangan, membeli bahan sesuai jumlah yang diperlukan, serta menyimpan makanan dengan cara yang tepat agar tidak cepat rusak. Porsi makanan juga dapat disesuaikan sehingga tidak banyak makanan yang tersisa setelah dikonsumsi. Bahan pangan yang masih layak sebaiknya dimanfaatkan kembali sebelum akhirnya dibuang. Upaya sederhana tersebut dapat menekan volume sampah organik sejak dari sumbernya.
Apabila masih terdapat sisa makanan, pemilahan menjadi tahap penting sebelum dilakukan pengolahan. Sampah organik perlu dipisahkan dari plastik, logam, kaca, dan jenis sampah anorganik lainnya. Pemilahan sejak dari sumber membuat proses pengolahan menjadi lebih mudah sekaligus mengurangi risiko kontaminasi. Sisa sayuran, buah, nasi, dan berbagai bahan organik lainnya dapat dikumpulkan secara terpisah. Kebiasaan tersebut juga membantu mengurangi beban pengelolaan sampah di tingkat kota.
Salah satu cara memanfaatkan sampah organik adalah mengolahnya menjadi kompos. Sisa makanan tertentu dapat dicampurkan dengan bahan organik lain seperti daun kering untuk menjalani proses penguraian secara terkontrol. Hasil pengolahan kemudian dapat dimanfaatkan sebagai kompos untuk tanaman dan memperbaiki kondisi tanah. Cara tersebut membuat sebagian sampah tidak perlu dikirim ke tempat pemrosesan akhir. Pengomposan dapat diterapkan mulai dari skala rumah tangga hingga fasilitas pengolahan yang lebih besar.
Pengolahan sampah makanan juga dapat dilakukan menggunakan teknologi yang menghasilkan produk lain yang bermanfaat. Pada skala tertentu, material organik dapat dimanfaatkan melalui proses biologis untuk menghasilkan energi seperti biogas. Pengembangan maggot atau larva lalat tentara hitam juga menjadi salah satu metode pemanfaatan sebagian jenis sampah organik. Hasil budidayanya dapat digunakan untuk kebutuhan tertentu, sementara residu pengolahan masih dapat dimanfaatkan sesuai karakteristiknya. Metode yang dipilih perlu menyesuaikan jenis dan volume sampah yang tersedia.
KLH juga mendorong perubahan pola pengelolaan agar sampah organik tidak seluruhnya tercampur dan berakhir di tempat pemrosesan akhir. Ketika sampah makanan tertimbun bersama berbagai jenis sampah lainnya, proses penguraian dapat menghasilkan metana. Selain emisi, penumpukan sampah organik dapat menimbulkan bau dan menghasilkan cairan lindi yang perlu dikelola. Pengurangan dari sumber menjadi penting untuk menekan berbagai dampak tersebut. Pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat memiliki peran dalam membangun sistem pengelolaan yang lebih efektif.
Pengelolaan sampah makanan pada akhirnya perlu dimulai dari perubahan kebiasaan sehari-hari. Mengambil makanan sesuai kebutuhan, memanfaatkan bahan yang masih layak, memilah sisa makanan, serta mengolah sampah organik dapat mengurangi jumlah sampah yang dibuang. Langkah tersebut juga membantu menekan potensi emisi dari proses pembusukan sampah di tempat pemrosesan akhir. Pengelolaan yang konsisten dapat memberikan manfaat lingkungan sekaligus menghasilkan produk seperti kompos maupun energi. Dengan keterlibatan masyarakat dan penguatan sistem pengelolaan, sampah sisa makanan dapat dikurangi sekaligus dimanfaatkan secara lebih produktif.





