Jakarta, 10 September 2026 – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia ditutup melemah pada perdagangan Rabu (9/9) seiring tekanan yang juga terjadi pada mayoritas bursa saham Asia. IHSG berakhir turun 8,24 poin atau 0,12 persen ke level 6.678,20, sedangkan indeks LQ45 melemah 1,33 poin atau 0,20 persen menjadi 664,25. Pergerakan pasar saham domestik dipengaruhi meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global. Eskalasi tersebut mendorong harga minyak mentah dunia menembus level 100 dolar AS per barel dan meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi. Kondisi itu membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati dalam mengambil posisi pada aset berisiko.
Sepanjang perdagangan, pergerakan IHSG berlangsung cukup fluktuatif dengan indeks sempat berada pada rentang 6.642 hingga 6.707. Aktivitas transaksi di Bursa Efek Indonesia mencapai sekitar Rp16,16 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 34,5 miliar saham. Frekuensi transaksi tercatat sekitar 2,17 juta kali, menunjukkan aktivitas investor tetap tinggi meskipun indeks berakhir di zona negatif. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 308 saham menguat dan 317 saham melemah, sedangkan 169 saham tidak mengalami perubahan harga. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan pasar berlangsung relatif merata, meskipun sejumlah saham tertentu masih mampu mencatatkan penguatan. Pelemahan sejumlah saham berkapitalisasi besar turut memberikan tekanan terhadap pergerakan indeks secara keseluruhan.
Tekanan terhadap pasar saham regional terutama muncul setelah konflik Amerika Serikat dan Iran kembali mengalami eskalasi di kawasan Timur Tengah. Perkembangan terbaru meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur pengiriman energi, terutama di sekitar Selat Hormuz yang mempunyai posisi strategis dalam perdagangan minyak dunia. Iran dilaporkan melakukan serangan terhadap sejumlah kapal setelah Amerika Serikat sebelumnya menyerang lima kapal tanker minyak Iran. Ketegangan tersebut membuat pelaku pasar memperhitungkan kemungkinan gangguan pasokan minyak apabila konflik berlangsung lebih lama. Risiko terhadap jalur perdagangan energi menjadi perhatian karena dapat berdampak langsung terhadap harga minyak, biaya transportasi, dan rantai pasok global. Ketidakpastian tersebut kemudian mendorong investor mengurangi eksposur terhadap aset yang dianggap lebih berisiko.
Harga minyak Brent melonjak melewati level psikologis 100 dolar AS per barel setelah ketegangan di kawasan tersebut meningkat. Pada perdagangan Kamis, Brent masih bertahan di atas 101 dolar AS per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate berada di kisaran 96 dolar AS per barel. Harga Brent tercatat telah meningkat hampir 30 persen dibandingkan posisi terendah yang sempat dicapai pada awal Agustus. Pergerakan tersebut memperlihatkan bagaimana pasar mulai memasukkan risiko konflik berkepanjangan ke dalam harga energi. Apabila gangguan terhadap produksi maupun distribusi minyak berlanjut, harga energi berpotensi bertahan pada tingkat tinggi dalam periode yang lebih lama. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat pasar saham global kembali menghadapi tekanan.
Kenaikan harga minyak menimbulkan kekhawatiran baru terhadap prospek inflasi global yang sebelumnya menjadi perhatian utama bank sentral. Harga energi yang tinggi dapat meningkatkan biaya produksi dan transportasi sehingga berpotensi diteruskan kepada konsumen melalui kenaikan harga barang dan jasa. Tekanan inflasi tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi arah kebijakan suku bunga di berbagai negara. Pelaku pasar kini mencermati kemungkinan bank sentral mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama apabila inflasi kembali meningkat akibat kenaikan harga energi. Kondisi itu juga tercermin dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun yang berada di sekitar 4,84 persen, mendekati level tertinggi sejak 2023. Kombinasi harga minyak tinggi dan imbal hasil obligasi yang meningkat menjadi tekanan tambahan bagi valuasi pasar saham.
Sentimen negatif tersebut tidak hanya memengaruhi pasar Indonesia, tetapi juga terlihat pada perdagangan saham di berbagai kawasan. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun sekitar 0,7 persen, sementara Nikkei Jepang dan Kospi Korea Selatan juga bergerak melemah. Bursa saham di kawasan Teluk ikut menghadapi tekanan karena investor semakin mengkhawatirkan dampak konflik terhadap jalur perdagangan energi. Di Wall Street, tiga indeks utama sebelumnya juga berakhir di zona negatif, dengan Dow Jones turun 0,77 persen, S&P 500 melemah 0,48 persen, dan Nasdaq Composite terkoreksi 0,64 persen. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap konflik dan inflasi telah menjadi sentimen global, bukan hanya faktor regional. Investor cenderung menunggu perkembangan berikutnya sebelum kembali meningkatkan posisi pada aset berisiko.
Dari sisi sektoral di pasar domestik, sejumlah kelompok saham mengalami tekanan lebih dalam dibandingkan sektor lainnya. Saham sektor kesehatan, barang konsumen nonprimer, dan teknologi menjadi beberapa kelompok yang mencatatkan pelemahan cukup besar sepanjang perdagangan. Sektor properti dan keuangan juga berada dalam tekanan, sementara aksi jual terhadap sejumlah saham perbankan berkapitalisasi besar ikut membebani IHSG. Meski demikian, beberapa saham komoditas masih mampu bergerak positif karena mendapatkan sentimen dari kenaikan harga energi dan komoditas global. Saham seperti INDY, AADI, dan ANTM tercatat menguat meskipun indeks secara keseluruhan mengalami koreksi. Perbedaan kinerja tersebut menunjukkan investor mulai lebih selektif memilih saham ketika volatilitas pasar meningkat.
Dari dalam negeri, sejumlah indikator ekonomi sebenarnya masih memberikan sinyal yang relatif positif. Indeks Keyakinan Konsumen Indonesia meningkat menjadi 118,5 pada Agustus 2026 dari 116,8 pada Juli. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini juga meningkat menjadi 109,4 dari sebelumnya 107,9, sedangkan Indeks Ekspektasi Konsumen naik menjadi 127,6 dari 125,7. Data tersebut menunjukkan persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi maupun prospek beberapa bulan mendatang mengalami perbaikan. Namun, sentimen positif domestik belum cukup kuat untuk sepenuhnya mengimbangi tekanan eksternal yang berasal dari konflik geopolitik dan kenaikan harga energi. Pasar juga masih memperhatikan perkembangan penjualan ritel dan indikator ekonomi lainnya untuk menilai kekuatan konsumsi domestik.
Tekanan terhadap IHSG berlanjut pada perdagangan Kamis pagi ketika indeks bergerak turun 7,40 poin atau sekitar 0,11 persen menjadi 6.670,80 pada pukul 09.55 WIB setelah sebelumnya sempat dibuka menguat. Indeks LQ45 pada waktu yang sama melemah 0,52 poin menjadi 663,73. Sejumlah bursa utama Asia juga berada di zona negatif, termasuk Nikkei, Shanghai, Kospi, Hang Seng, dan Straits Times. Pergerakan serentak tersebut menunjukkan investor regional masih berhati-hati menghadapi risiko kenaikan harga energi serta perkembangan konflik di Timur Tengah. Pelaku pasar juga menunggu data inflasi Amerika Serikat yang dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan Federal Reserve pada pertemuan berikutnya. IHSG diperkirakan masih bergerak dengan volatilitas tinggi selama ketidakpastian eksternal belum mereda.
Pergerakan pasar dalam beberapa hari ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan konflik AS-Iran, harga minyak dunia, imbal hasil obligasi Amerika Serikat, serta kebijakan bank sentral global. Meredanya ketegangan dapat membantu mengurangi premi risiko dan membuka peluang pemulihan pasar saham, sedangkan eskalasi lanjutan berpotensi mempertahankan tekanan terhadap aset berisiko. Bagi Indonesia sebagai negara yang masih sensitif terhadap perubahan harga energi dan arus modal global, kenaikan harga minyak dalam jangka panjang juga dapat memengaruhi ekspektasi inflasi serta pergerakan nilai tukar. Di sisi lain, fundamental ekonomi domestik dan konsumsi masyarakat dapat menjadi penahan apabila tekanan eksternal mulai berkurang. Investor karena itu diperkirakan tetap selektif dan mencermati perkembangan global sebelum mengambil keputusan investasi. Selama ketegangan geopolitik masih tinggi, volatilitas IHSG dan bursa Asia berpotensi tetap menjadi bagian utama dari perdagangan pasar keuangan.





