Jakarta, 5 Juni 2026 – Grup musik Maliq & D’Essentials mengungkap fakta menarik mengenai salah satu lagu dalam katalog karya mereka yang berjudul “Sayap”. Dalam sebuah kesempatan, para personel mengaku bahwa lagu tersebut hanya pernah dibawakan satu kali dalam penampilan langsung sepanjang kurang lebih sembilan tahun sejak dirilis. Pengakuan tersebut langsung menarik perhatian para penggemar yang selama ini mengikuti perjalanan musik Maliq & D’Essentials dan mengenal luas berbagai lagu populer mereka. Banyak penikmat musik merasa terkejut karena lagu tersebut termasuk karya yang cukup dikenal di kalangan pendengar setia grup tersebut. Kisah di balik jarangnya lagu itu dibawakan pun menjadi topik pembicaraan yang ramai di berbagai komunitas musik dan media sosial.
Menurut para personel, keputusan untuk tidak sering memasukkan “Sayap” ke dalam daftar lagu konser bukan disebabkan oleh kualitas atau minimnya apresiasi terhadap lagu tersebut. Sebaliknya, lagu itu memiliki tempat tersendiri dalam perjalanan kreatif grup. Namun, berbagai pertimbangan teknis, konsep pertunjukan, hingga kebutuhan menyusun setlist yang sesuai dengan karakter penonton di setiap konser membuat lagu tersebut jarang mendapatkan kesempatan tampil di atas panggung. Dalam industri musik, tidak semua lagu yang direkam di studio memiliki frekuensi penampilan yang sama saat konser berlangsung. Sering kali sebuah grup harus memilih lagu-lagu tertentu yang dianggap paling sesuai dengan suasana acara dan ekspektasi audiens yang hadir.
Fenomena lagu yang jarang dibawakan sebenarnya bukan hal yang asing dalam dunia musik. Banyak musisi memiliki karya-karya yang mendapat tempat khusus di album, tetapi tidak selalu masuk dalam repertoar pertunjukan langsung. Faktor aransemen, kebutuhan instrumen tambahan, hingga dinamika panggung sering menjadi alasan mengapa sebuah lagu lebih sering dinikmati dalam versi rekaman dibandingkan pertunjukan live. Dalam kasus Maliq & D’Essentials, keberagaman warna musik yang mereka miliki membuat proses pemilihan lagu untuk konser menjadi semakin kompleks. Dengan katalog lagu yang terus bertambah dari tahun ke tahun, persaingan antar lagu untuk masuk ke dalam daftar penampilan juga menjadi semakin ketat.
Pengamat musik menilai bahwa pengakuan mengenai lagu “Sayap” menunjukkan betapa besar jumlah karya yang telah dihasilkan Maliq & D’Essentials selama perjalanan karier mereka. Sebagai grup yang telah aktif selama lebih dari dua dekade, mereka memiliki puluhan lagu yang masing-masing memiliki penggemar tersendiri. Dalam situasi seperti itu, tidak semua karya dapat memperoleh porsi yang sama di atas panggung. Beberapa lagu menjadi andalan yang hampir selalu dinantikan penonton, sementara yang lain lebih sering dikenang sebagai bagian dari pengalaman mendengarkan album secara utuh. Kondisi tersebut merupakan tantangan yang umum dihadapi grup musik dengan katalog karya yang luas dan basis penggemar yang beragam.
Di kalangan penggemar, informasi mengenai jarangnya lagu “Sayap” dibawakan justru memunculkan antusiasme baru. Banyak yang berharap lagu tersebut dapat kembali masuk ke dalam daftar penampilan pada konser-konser mendatang. Tidak sedikit pula yang mulai kembali mendengarkan lagu tersebut untuk memahami alasan mengapa karya itu tetap memiliki tempat khusus meskipun jarang tampil secara langsung. Fenomena ini menunjukkan bagaimana sebuah lagu dapat memperoleh kehidupan baru ketika cerita di balik proses penciptaan maupun sejarah penampilannya diketahui oleh publik. Hubungan emosional antara musisi dan pendengar sering kali terbentuk bukan hanya melalui musik, tetapi juga melalui kisah yang menyertai perjalanan sebuah karya.
Perjalanan panjang Maliq & D’Essentials di industri musik Indonesia juga menjadi contoh bagaimana sebuah grup mampu menjaga relevansi tanpa kehilangan identitas musikalnya. Selama bertahun-tahun, mereka dikenal konsisten menghadirkan perpaduan unsur jazz, soul, pop, dan funk yang menjadi ciri khas tersendiri. Keberhasilan tersebut membuat banyak lagu mereka tetap dikenang lintas generasi. Dalam proses kreatif yang panjang, setiap lagu memiliki cerita dan fungsi yang berbeda dalam membangun identitas grup. Oleh karena itu, meskipun ada lagu yang jarang dibawakan, keberadaannya tetap menjadi bagian penting dari keseluruhan perjalanan artistik mereka.
Ke depan, pengakuan mengenai lagu “Sayap” yang hanya sekali dibawakan dalam sembilan tahun diperkirakan akan semakin meningkatkan rasa penasaran para penggemar terhadap karya-karya lain yang jarang muncul di atas panggung. Banyak penikmat musik berharap grup tersebut dapat menghadirkan konsep konser yang lebih eksploratif dengan menampilkan lagu-lagu yang selama ini jarang terdengar dalam pertunjukan langsung. Bagi Maliq & D’Essentials, cerita di balik lagu “Sayap” menjadi pengingat bahwa setiap karya memiliki perjalanan yang unik, baik yang sering dinyanyikan di depan ribuan penonton maupun yang hanya sesekali muncul dalam momen-momen spesial. Pada akhirnya, kekuatan sebuah lagu tidak selalu diukur dari seberapa sering dibawakan, melainkan dari kesan yang ditinggalkannya bagi musisi maupun pendengar yang menikmatinya.





