Jakarta, 4 Juni 2026 – Musisi dan penulis lagu Is Pusakata kembali menarik perhatian publik melalui pernyataannya mengenai pilihan bermusik yang tetap berfokus pada penggunaan bahasa Indonesia. Dalam sebuah perbincangan yang menjadi sorotan penggemar musik, Is Pusakata menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki keinginan untuk membuat lagu berbahasa Inggris hanya demi mengikuti tren atau memperluas pasar secara instan. Menurutnya, proses berkarya harus lahir dari kejujuran dan kedekatan emosional dengan bahasa yang digunakan. Pernyataan tersebut memunculkan berbagai tanggapan dari kalangan pecinta musik karena dianggap mencerminkan sikap konsisten seorang seniman dalam mempertahankan identitas artistiknya. Di tengah semakin banyaknya musisi yang mencoba menjangkau audiens internasional melalui karya berbahasa Inggris, Is memilih tetap setia pada pendekatan yang selama ini menjadi ciri khasnya.
Bagi Is Pusakata, bahasa bukan sekadar alat komunikasi dalam sebuah lagu, melainkan medium yang membawa pengalaman hidup, emosi, dan cara pandang yang sangat personal. Ia menilai bahwa setiap lirik yang ditulis memiliki keterkaitan erat dengan latar budaya dan kehidupan sehari-hari yang membentuk dirinya sebagai seorang seniman. Karena itu, penggunaan bahasa Indonesia dianggap sebagai cara paling natural untuk menyampaikan cerita dan perasaan yang ingin dibagikan kepada pendengar. Sikap tersebut menunjukkan bahwa orientasi berkarya tidak selalu ditentukan oleh peluang pasar yang lebih luas, tetapi juga oleh kesesuaian antara pesan yang ingin disampaikan dan medium yang digunakan. Banyak penggemar menilai pendekatan ini menjadi salah satu alasan mengapa karya-karya Is memiliki kedalaman emosional yang kuat dan mudah diterima oleh pendengar dari berbagai kalangan.
Perkembangan industri musik dalam beberapa tahun terakhir memang menunjukkan semakin besarnya peluang bagi musisi untuk menjangkau audiens global melalui platform digital. Banyak penyanyi dan grup musik dari berbagai negara mulai merilis karya berbahasa Inggris sebagai strategi untuk memperluas pasar internasional. Fenomena tersebut juga terjadi di Indonesia, di mana sejumlah musisi mencoba menghadirkan karya dengan pendekatan yang lebih universal agar dapat diterima oleh pendengar di luar negeri. Namun, tidak semua seniman memilih jalur yang sama. Sebagian tetap mempertahankan bahasa dan identitas lokal karena percaya bahwa keaslian karya justru menjadi daya tarik utama yang membedakan mereka dari musisi lain di tingkat global. Pilihan Is Pusakata mencerminkan pandangan bahwa keberhasilan sebuah karya tidak selalu bergantung pada bahasa yang digunakan, melainkan pada kekuatan cerita dan emosi yang terkandung di dalamnya.
Pengamat musik menilai bahwa sikap yang ditunjukkan Is Pusakata sejalan dengan tren global yang semakin menghargai keberagaman budaya dalam industri kreatif. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak lagu yang menggunakan bahasa non-Inggris berhasil meraih popularitas internasional tanpa harus mengubah identitas aslinya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa audiens global kini semakin terbuka terhadap karya yang merepresentasikan budaya dan bahasa dari berbagai negara. Oleh karena itu, penggunaan bahasa Indonesia tidak lagi dipandang sebagai hambatan untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Sebaliknya, karakter lokal yang kuat justru dapat menjadi nilai tambah yang membedakan seorang musisi di tengah persaingan industri musik yang semakin kompetitif.
Di sisi lain, konsistensi dalam mempertahankan identitas artistik sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi para musisi. Tekanan pasar, perubahan tren, dan perkembangan teknologi membuat banyak seniman harus menyeimbangkan antara kebutuhan komersial dan idealisme kreatif. Dalam situasi seperti itu, keputusan untuk tetap berkarya sesuai dengan keyakinan pribadi menjadi bagian penting dari perjalanan seorang musisi. Is Pusakata dikenal sebagai sosok yang selama ini mengedepankan narasi, refleksi kehidupan, dan pendekatan puitis dalam setiap karyanya. Karakter tersebut telah membentuk hubungan yang kuat antara dirinya dan para pendengar yang menghargai kejujuran dalam proses penciptaan musik.
Respons publik terhadap pernyataan Is menunjukkan bahwa masih banyak penikmat musik yang memberikan apresiasi terhadap karya yang lahir dari proses kreatif yang autentik. Di berbagai platform media sosial, sejumlah penggemar menyampaikan dukungan terhadap pilihannya untuk tetap menggunakan bahasa Indonesia sebagai medium utama dalam berkarya. Mereka menilai bahwa kekuatan sebuah lagu tidak ditentukan oleh bahasa yang digunakan, melainkan oleh kemampuan lagu tersebut menyentuh emosi dan menghadirkan pengalaman yang bermakna bagi pendengarnya. Dukungan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa keberagaman pendekatan dalam bermusik tetap memiliki tempat di tengah industri yang terus berubah.
Ke depan, pilihan Is Pusakata untuk terus berkarya dengan bahasa Indonesia diperkirakan akan semakin memperkuat identitasnya sebagai salah satu musisi yang konsisten menjaga karakter artistik dalam setiap karya yang dihasilkan. Di tengah arus globalisasi yang mendorong banyak seniman untuk menyesuaikan diri dengan pasar internasional, sikap tersebut menjadi contoh bahwa keaslian tetap memiliki nilai yang tinggi dalam dunia kreatif. Dengan mengutamakan kejujuran dalam proses penciptaan lagu, Is menunjukkan bahwa musik dapat menjadi ruang ekspresi yang bebas dari tekanan untuk mengikuti standar tertentu. Pada akhirnya, keberhasilan sebuah karya tidak hanya diukur dari luasnya jangkauan pasar, tetapi juga dari kemampuannya membangun hubungan yang tulus dan bermakna dengan para pendengarnya.





