Yogyakarta — Sosok inspiratif datang dari dunia pendidikan Indonesia. Ahmad Reza Maulana (22 tahun), mahasiswa difabel tunarungu dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), berhasil mengharumkan nama bangsa dengan menjuarai kompetisi debat bahasa Inggris tingkat ASEAN yang digelar di Singapura awal Juli lalu.
Yang membuat publik terkesima, Reza berkompetisi menggunakan alat bantu dengar dan interpreter bahasa isyarat, namun tetap menunjukkan performa debat yang tajam, logis, dan memukau juri. Ia mengalahkan 28 finalis dari berbagai negara Asia Tenggara dan membawa pulang penghargaan “Best Individual Speaker”.
Mengubah Keterbatasan Menjadi Kekuatan
Reza mengaku belajar bahasa Inggris sejak SMP secara mandiri dengan membaca teks dan menonton film bersubtitle. Ia juga aktif di komunitas literasi kampus dan mengikuti pelatihan debat setiap pekan, meskipun harus menyesuaikan dengan metode komunikasi yang berbeda.
“Saya percaya bahwa keterbatasan bukan hambatan, tapi jalan berbeda untuk sampai ke tujuan,” kata Reza dalam wawancara via juru bahasa isyarat.
Prestasinya disambut dengan bangga oleh civitas akademika UNY dan netizen tanah air. Ia juga akan menjadi perwakilan Indonesia dalam forum pemuda difabel ASEAN 2025 mendatang.
Banjir Dukungan dari Publik dan Pemerintah
Tagar #RezaMenginspirasi, #DifabelBerprestasi, dan #DebaterASEAN2025 langsung trending di X dan Instagram. Netizen ramai-ramai memuji semangat juang Reza dan menyebutnya sebagai contoh nyata bahwa inklusivitas dan ketekunan bisa membuka peluang tak terbatas.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI memberikan penghargaan khusus dan beasiswa S2 luar negeri untuk Reza, sementara Kementerian Sosial menyatakan akan mengusulkan namanya sebagai ikon pemuda difabel nasional 2025.
“Semoga kisah saya bisa memotivasi teman-teman difabel lainnya untuk tidak menyerah dan tetap berkarya,” ujar Reza dengan senyum lebar.